imaging

imaging
Andi Sulastri Supardi

Thursday, December 29, 2011

Bersama Sepi


Masih…
Berdiam bersama ayunan irama kepedihan
Hingga kutahu hanya detak jam dinding yang setia mengawal
Lantunan kaki seolah saja menari di atas awan
Menyentuh bukit pesakitan dan menyerupai malaikat Tuhan

Bagai burung yang tersekap dalam kepingan tangis
Berjalan serentak menuju disentri kematian
Isakan nafas bagai sopran yang hilang tertelan dalam pijaran air mata
Bersama angin kusampaikan pesanku yang kutulis dalam diam

Monday, December 26, 2011

Menjemput Angan

Kawan, andai aku mampu mengarungi samudera waktu
kuingin agar tak ada kenangan.
Biarlah kemarin, hari ini dan esok tetap sama
Bahkan, jika saja bumi ini berotasi
Lagi lagi aku hanya ingin diam di sini, bersama denganmu. 

Kawan, jika saja ada kesempatan untukku berharap
sungguh kuingin agar tak ada jarak
cukup kau dan aku berjalan beriringan
pun, andai ruang itu tak begitu lapang
kuingin berada di rongga tersempit denganmu
agar selamanya tak jauh darimu

Namun, aku salah
kau dan aku telah berjalan di setapak yang berbeda
kau kini berada di singgasana terjauh
sedang berlari kencang, mengejar anganmu
begitupun denganku, kawan.

Andai suatu waktu
Kutemukan kau dengan kondisi berbeda
Mungkin aku hanya bisa tersenyum
Melihatmu dengan toga keberhasilan

Kawan, hari ini, esok dan seterusnya
Tetap akan menjadi masa lampau
Biarlah….
Kawan, aku di sini bukan karena tanpamu
kaupun menjadi penyebab keberadaanku

Hari ini pernah menjadi kenangan kita kala itu
Bercerita masa depan yang kini sudah di depan mata
Sebentar lagi kawan, meski tak ada ramalan keberadaan waktu
Tapi, tetaplah di sana, begitu juga denganku
Menjemput angan.

Sendiri

Senja nampak elok oleh keemasan yang setia mengawali
Ketika awan berarak bergerak, bergantian dengan datangnya malam
Kelampun jadi ukiran yang selalu menemani
Hari-hari hanya menjadi kemarau panjang yang tak berkesudahan
Hingga kala itu aku tak ada lagi

Hari ini dan esok lagi lagi hanya akan menjadi kenangan yang sungguh gusar
Tak ada noktah terang hingga kini
Kutemukan diri dengan rupa yang berbeda
Terlihat indah namun tetap saja rapuh
Lemah oleh harap yang belum jua tiba

Seraya menunggu, namun masih nihil
Kosong melompong, terhijabi oleh dosa yang saling bersahut sahutan
Gelisah menanti giliran, hingga semua menjadi akibat penghijab
Suatu saat kumelihat berbeda, nyaris hilang bersama sinaran pagi
Hingga lembayungpun tertutupi oleh pegam hitam
Hijab ini perlahan menggerogoti organ ruhani
Bahkan tetesan iman tak lagi terlihat
Meninggalkan, tanpa jejak
Hingga yang tersisa hanya tangis, pedih, luka
Kini, hanya sendiri, bahkan itu bukan aku
 

Sunday, December 4, 2011

Rasa Strawberry



Jika kau datang dan meminta agar ‘aku’ tetap jadi ‘aku’
Sesungguhnya aku mulai tak sanggup
Seseorang telah datang dan menyihirku menjadi bukan aku
Dan aku terperangap di sini, meski dia selalu mengatakan “akan ada di sini selalu untukku”
Tapi, jujur aku tetap merasa sendiri dengan menjadi bukan aku

Bukan “aku” tak mau menjadi “aku” lagi
Tapi, kau yang tak mampu menjadikanku seperti aku yang aku dan kamu mau
Andai ini adalah pilihan, aku akan memilih tetap menjadi “aku”
Hanya saja, ini adalah keterpaksaan
Sebab, ini sebuah rasa, yang kusebut Strawberry

Friday, November 4, 2011

Cukup Seperti ini saja!!
Kosong, satu, dua tak juga bersua
Tak ada kata yang mewakili pemandangan hati ini
Putih atau hitam, tapi bukan tak ada gambaran warna
Sungguh, hampa ini masih tak terbendung
Kegelisahan ini kian menambah warna warni suasana hati

Awalnya, kupikir akan sama saja dengan memoar kemarin
Tapi, lagi lagi ternyata bukan
Ini bukan biasa, special, bahkan sangat istimewa
Atau sama sajakah dengan mereka
Tak ingin, bukan itu sejujurnya yang diinginkan oleh hati ini
Lalu apa?

Apa ini? Sudahlah aku saja sulit untuk membahasakan
Mereka bukan kita
Apa yang perlu kutakutkan, biarkan sajalah
Tak akan kudengarkan cemohan mereka
Aku dan kamu biarkan seperti ini
Cukup seperti ini sajalah

Saturday, September 17, 2011

Menghijab dengan Jilbab

Jilbab, apa yang kuketahui tentang itu? Aku mungkin sedikit paham bahwa jilbab adalah penutup aurat, only that. Dari penampilanku, orang mungkin akan mengira bahwa aku seorang perempuan yang tahu banyak tentang islam, seorang yang berasal dari keluarga yang begitu fanatik dengan Islam, atau bisa jadi mereka mengira bahwa aku seorang anak pesantren. Tapi, sungguh itu semua salah, sejak kecil orang tuaku memasukkanku ke tempat mengaji, di sanalah aku belajar banyak soal Agama yang dibawah oleh Rasulullah SAW. Mengajariku menutup aurat, di sana pulalah aku bergau dengan teman-teman yang kebanyakan berasal dari keluarga pesantren, perlahan akupun mulai terkontaminasi dengan pakaian yang mereka kenakan tiap harinya.
Akupun memutuskan untuk mengenakan jilbab yang sedikit agak panjang (menutupi dada), awalnya mungkin hanya anjuran dari seorang teman, namun jilbab ini Alhamdulillah mampu aku pertahankan sampai aku menginjakkan kaki di Universitas. Sejak saat itupun aku berkomitmen untuk menjaga jilbab sebagai hijab dan juga Identitas diriku.
Suatu hari aku mengikuti sebuah kajian keagamaan, awalnya pemateri tidak membahas tentang hijab, namun seseorang tiba-tiba menanyakan tentang penutup aurat bagi perempuan. Pemateripun menjawabnya dengan memberikan analogi bahasa yang lebih mudah, “perempuan itu kedudukannya sama dengan mutiara, begitu sangat berharga, sehingga harus selalu dijaga, harus dilindungi, olehnya itu mutiara tidak disimpan di sembarang tempat, ia memiliki wadah khusus untuk menjaganya dan menutupinya, begitu pula dengan perempuan karena ia berharga, tak sembarang orang mampu menyentuhnya dan karena keberhargaannya itu juga ia tertutupi.”
Seseorang juga pernah mengatkan seperti ini padaku, “siapa yang tidak menghargai perempuan maka ia belum mapu menghargai Fatimah Az Zahra da siapa yang belum juga mampu menghargai putri Rasul ini, jangan harap telah menghargai Muhammad SAW, nah salah satu bentuk penghargaan terhadap perempuan adalah mengenakan penutup aurat.”
Namun, tak jarang perempuan yang belum mengenakan jilbab memiliki alasan yang sama, “jilbabkan dullulah hati, sebelum menutup aurat.” Awalnya kupikir apa yang sering mereka katakan ini juga tidak salah, tapi bagi mereka yang memperkenalkan diri sebagai muslimah seharusnya ingat salah satu ayat dalam Al Quran,  Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal karena itu mereka tidak di ganggu.Dan Allah adalah maha pengampun dan penyayang. (Al Ahzab.59).
Jadi, pada dasarnya jilbab adalah suatu yang wajib hukumnya, jangankan kita yang posisinya masih perempuan biasa, bahkan istri nabipun diminta untuk mengenakan jilbab. Tapi, buatku ini bukan persoalan wajib tidaknya, namun ini adalah bagaimana kedudukan, kamu, saya, dia dan beberapa permpuan lainnya bahwa kita sangat berharga, jangan biarkan keelokan tubuhmu terlihat, kita mungkin seperti jajanan kue yang ada pasar, tapi kue yang ditutup rapi, sehingga tak membiarkan orang lain seenaknya menyentuh, hanya si pemiliklah. Jilbab, menjadi identitas kita kawan.

Sunday, September 11, 2011

Aku Rindu, Apa Kau Juga???

Hey yang di sana, seberapa lama lagi aku menunggu? Apa betul kau akan kembali menemuiku? Datang kepadaku dan kita akan berbicara tentang cinta. Benarkan??? Jangan pergi terlalu jauh yah kekasihku, aku takut jika kau lupa jalan untuk pulang.
Kau pernah mengatakan bahwa akan menungguku sejauh apapun aku pergi, bahkan anda aku tak kembali, kau masih ingin tetap menungguku, tapi itu katamu dulu. Sejenak, aku diam ternyata aku takut membuatmu lama menunggu, biarkan kini giliranku. Tak mengapa jika harus menunggu lama, asal kau kembali.
Kini, di tepi jendela, kuselalu menatap jauh ke awan, berharap hujan segera menitikkan dentingan air, menyampaikan salamku lewat angin. Mengharapmu hadir di ujung jalan sana, atau sedang duduk menimati aroma hujan dan wewangian tanah  yang menjadi  basah.

Duhai yang kucinta, kurindukan hadirmu di sini.

Kupikir mampu melupakannya, ternyata aku salah. Kebersamaan kami dulu meninggalkan bekas di sudut termanis hatiku. Episode yang pernah kami lewatkan terasa begitu pahit untukku melupannya, bahkan aku sendiri tak peduli apa dia merasakan hal yang sama denganku, namun tetap saja aku berharap suatu hari takdir mampu mempertemukan kami lagi.
Ya Rabb, sungguh aku masih mengharapkannya, di dalam relung hatiku ini masih ada ruang untuknya. Terkadang kupertanyakan, mengapa kebersamaan dengannya seolah berlalu begitu cepat, namun kupikir ini adalah jalan terindah yang Kau siapkan untukku dan dirinya, tak mengapa.
Duhai yang tercinta yang pernah hadir di sini bersamaku, terima kasih telah membuat hari-hariku lebih indah walau sangat singkat. Biarlah semua berjalan seperti sedia kala, seperti saat kau dan aku tak pernah saling mengenal, tak pernah bertemu dalam sebuah skenario Tuhan.
Mungkin, kau telah bersama yang lain atau sedang merindukan seseorang yang juga sama sedang merindukanmu di sana. Biarlah aku tetap menjaga kerinduan ini, kelak akupun mampu melanjutkan episode kisah ini meski itu bukan bersamamu.

Wednesday, May 25, 2011

Aku Janji Kak!!!

“Dek, apa bisa malam ini ke pondokannya kakak? Ada yang mau saya berikan,” pesan itu terlihat membahana di layar mungil hapeku. Dalam pikir, aku masih bertanya-tanya entah apa yang ingin diberikannya untukku. Akupun teringat dengan seseorang yang pernah menyampaikan padaku bahwa ia akan pergi. Namun, hal itu ternyata belum juga menyadarkanku bahwa kakak yang sudah lama ini membimbingku benar-benar akan meninggalkan kota anging mammiri ini.
Pukul 9 teng aku berjalan ke pondokannya, yang tak jauh dari tempat tinggalku, aku berjalan dengan sangat santai seolah takkan terjadi sesuatu.
Setibaku di kamar yang berukuran 3*4 itu, kuketuk segera pintu kamarnya, berharap ia dengan sigap membukakan pintu untukku.
“kak shyta, apa kabar?” sapaku padanya.
Segera ia menarik tangan, memelukku dan cipika-cipiki deh! Hal ini bukanlah sesuatu yang baru buat aku dan dia karena seperti itulah agamaku mengajarkan agar selalu berjabat tangan saat bertemu guna menggugurkan dosa.
“Atty ke sini dengan siapa? Tanyanya padaku tanpa sempat menjawab sapaan awalku, mungkin lupa.
“sendiri kak,” ungkapku tegas.
Sambil berjalan masuk ke kamarnya, melewati lorong gelap yang kecil, ia mulai bercerita mengapa memanggilku malam-malam ke pondokannya.
“Atty, kak shyta akan ke Jakarta lusa besok.”
Kalimat itu seolah menjadi cambuk yang menyesakkan dadaku seketika, kaget mendengar apa yang baru saja ia sampaikan padaku. Segera kutanya untuk apa ia ke Jakarta dan berapa lama. Tanpa basa basi ia pun dengan gercap berkata.
“Kakak akan lanjutkan studi di sana dan entahlah kapan akan kembali lagi ke Makassar, bisa ia bisa tidak.”
Rasa sesal, takut, mulai menyeruak dalam batinku. Seluruh anggota tubuh ini bergetar mendengar apa yang baru saja di ucapkannya, bagai tersambar petir. Perlahan, air mataku meleleh dan tak kuasa lagi menahan. Tumpahlah sudah tangisanku malam itu, selasa (24/5).
Ia mulai merangkul tanganku, meyakinkanku bahwa suatu saat kami akan dipertemukan lagi, penyesalan dan rasa bersalah pada seorang yang sudah kuanggap kakakku itu semakin besar. Menyesal karena beberapa kali aku ingkar janji saat ia selalu mengajakku bertemu walau hanya sesaat. Menyesal, tak pernah lagi membalas pesan yang menanyakan kabarku, bahkan menyesal saat beberapa kali kubohongi dia untuk semua urusanku.
Ingin sekali kukatakan padanya, “aku mencintaimu, aku sayang padamu, kau kakakku, kumohon tetaplah di sini bersamaku,” kalimat-kalimat itu hanya melayang-layang di kepalaku, terasa berat untuk kuucapkan padanya.
Lama kami saling berdiam, tak bersuara, iapun kembali membuka pembicaraan dengan menasihatiku. “Dek, kakak tahu bagaimana kesibukanmu di sana, namun kakak tetap ingin agar kamu seperti dulu lagi, tapi tidak berarti harus meninggalkan yang di sana.”
Dadaku masih sesak, bibir ini masih sulit mengeluarkan suara. Untuk kesekian kalinya aku lagi-lagi mengumbar janji padanya, namun yang satu ini akan berusaha agar mampu kutunaikan. Anggukan-anggukanku saat itu pun menandakan kalau aku siap kembali, seperti dulu.
“Sebenarnya kakak sangat berharap sama Atty,” kalimat itu lagi, panas rasanya telingaku mendengarnya, bukan karena bosan tapi tanggung jawab itu terasa berat untuk kupikul. Dalam hati aku hanya mampu bertanya, “apa aku masih punya kesempatan?”
Terlambat, batinku hanya mampu berkata itu. Betul, aku memang terlambat. Sudahlah, aku berusaha meyakinkan diri ini bahwa sebentar lagi ia tak kan berada disampingku, tak ada lagi perhatian dari seorang kakak, tak ada lagi pesan dakwah yang selama ini kuhiraukan.
“Atty, walaupun kakak nantinya pergi atty tetap harus istiqomah yah. Ingat, tujuan pertama kita berada di sini adalah kuliah dan kelak kita akan menggunakan toga dengan disaksikan orang tua dan teman-teman,” nasehatnya padaku.
Perlahan, aku mulai mampu menyampaikan sesuatu, “kak, kenapa harus di Jakarta? Knpa tidak di sini saja? Tanyaku padanya.
foto ini diambil 2009 lalu
“Kakak, ingin mencoba di luar dek, kakak ingin membuktikan bahwa mahasiswa Unhas juga mampu bersaing. Lagi pula, kakak masih punya banyak impian yang harus kakak torehkan. Atty juga harus begitu, targetkan kapan ingin selesai kuliah, kapan ingin membuat gebrakan prestasi,” kalimat yang panjang itu, sungguh menyayat hati.
Iapun kmballi merangkulku, memelukku dengan sangat degap, pelukan yang entah kapan lagi akau mampu dapatkan darinya, semoga pelukan ini bukanlah pelukan terakhir. Dadaku yang tadinya sesak, kini sulit untuk menarik nafas, air mataku kembali tumpah di pelukan, kurasakan mataku muali membengkak dan kudengar pula isak tangis darinya.
“Tuhan, buat aku mampu membayar utang-utangku padanya, cukuplah kemarin bualan janji yang kulontarkan untuknya.”

Sunday, April 10, 2011

      Masihkah ada Negara Hukum???
Suatu ketika, seseorang bertanya kepadaku. “Apa yang membuatmu ingin kuliah di Fak. Hukum?” dengan kebingungan aku berusaha menjawab jujur, “saya kasihan melihat hiruk pikuk penegakan hukum yang ada di Negara ini.” sesaat setelah itu, aku mengingat kembali jawaban yang baru saja aku berikan kepada temanku tadi. Apa jawaban itu bisa aku pertanggung jawabkan nantinya, entahlah. Biarkan waktu yang menjawab.
            Jika kita melihat penegakan hukum yang ada di Negara yang memiliki ribuan pulau ini, memang sangatlah menyedihkan. Bahkan untuk menjadi seorang penegak hukum sekalipun terlebih dahulu harus ada pelanggaran hukum. Lihat saja, ketika pendaftaran calon polisi atau hakim, sepertinya kesempatan ini hanya dipersiapkan bagi mereka yang berduit. Orang miskin? Bukan tidak mau, tapi dengan modal apa mereka bisa ikut. Si kaya sih enak, gampang nyogoknya. Nah, kalau miskin, harus jual sawahlah, jual tanah bahkan kalau perlu gadikan rumah. Menyedihkan? Ya iya lah!!! Dimana lagi tempat kita mengaduh, kepada siapa harus kita sampaikan hal-hal yang seperti ini? kepada polisi? Hahaha… mereka hanya tertawa.
Saya pernah menonton acara yang disiarkan di sebuah stasiun televisi, yang mendatangkan KAPOLRI sebagai pembicara. Saat itu ada sesi yang memberikan kesempatan kepada penonton di luar stadiun televise untuk berbicara langsung dengan KAPOLRI melalui pesawat telepon. Saat itu, ia mengajukan sebuah pertanyaan yang menurut saya adalah sangat sensitive. Kalau tidak salah pertanyaannya seperti ini, “pak, kenapa harus ada sogok menyogok untuk pengurusan menjadi anggota kepolisian? Bukannya itu melanggar?” Si Kapolri dengan enteng menjawab, “Wah, saya tidak tahu menahu persoalan itu, memang betul itu adalah sebuah pelanggaran. Tapi, kalau bapak menemukan lagi kejadian serupa, hubungi saja KAPOLRI,”
            Ah, melelahkan……. Sampai kapan ini akan dibiarkan? Sebuah kesalahan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi sebuah kebenaran, tak ada bedanya dengan hal yang diatas. Indonesia, tidak lagi menjadi Negara hukum melainkan Negara yang disediakan untuk para koruptur dan sebangsanya.
            Lemah, penegakan hukum di Negara ini sangat lemah bahkan rapuh. Undang-Undang, Kode Etik, Peraturan Pemerintah atau apalah namanya hanya dijadikan simbol belaka. Pemerintah dan pejabat petinggi Negara hanya sekadar berakting tak ada bedanya dengan para aktris ketika bermain film. Berapa banyak pelanggaran yang terjadi di sana-sini, hanya dibiarkan begitu saja. Kasihan rakyat yang sudah bodoh, semakin diperbodoh oleh pemerintah.