imaging

imaging
Andi Sulastri Supardi

Sunday, October 28, 2012

Plato dan Ratusan Kue

by google
Makassar - Plato, nama itu sungguh tidak asing lagi buat para pencinta filsafat. Bagaimana tidak, Plato merupakan sosok filsuf yang terkenal dengan alam ideanya. Ia murid Sorates yang menceritakan semua kisah gurunya itu ke dalam buku. Socrates memiliki kisah hidup yang sangat tragis, hal ini dapat diketahui berkat sang murid yang menuangkannya dalam bentuk buku, Socrates Apologi, Dialog Socrates dan berbagai judul buku lainnya, ia sangat berjasa di dunia filsafat.
Melalui Platolah pemikiran Socrates, Sang Guru dapat dikenal, melaluinya juga filsafat dapat berkembang di Yunani, bahkan di Indonesia sampai saat ini. Plato yang ketika Sang guru meminum racun, ia berusia 29 tahun, usia yang cukup matang untuk memperdalam filsafat. Namun, apa sebenarnya yang dibawa oleh Plato?
Plato, bukan sekadar membawa ajaran seperti halnya para kaum spohist, yang begitu sangat empiris, menurutnya, hal ini lebih dari hanya menonton di rumah, atau menyaksikan pertunjukkan pemilihan ratu kecantikan. Ada hal yang mendasar dari hidup ini yang tidak bisa hanya disaksikan dengan indra, ada sesuatu yang tersembunyi dari apa yang terjadi selama berribu ribu tahun, bahkan hingga sekarang.
Bagi Anda yang kini, tengah membaca kata demi kata dari tulisan seorang yang tidak ada apa apanya seperti saya ini. Ada pertanyaan mungkin sama dengan yang diajukan oleh sang filsuf, bukan sama, tapi sejenis. Untuk apa Anda hidup???
Makan, tidur, bangun, cari uang, hingga tidur kembali, seperti inikah rotasi kehidupan Anda setiap hari?? Atau, makan, tidur, kuliah, belajar, sampai tidur lagi?? Pernahkan Anda meluangkan waktu barang semenit untuk memikirkan tentang kehidupan. Untuk apa Anda hidup, siapa Anda, atau bagi Anda yang percaya bahwa ada dunia yang kekal setelah ini,  pernahkah Anda bercermin dan bertanya pada diri sendiri, apakah akhirat betul adanya?
Tak jarang saya mendengar, baik itu dari teman, sahabat ataupun orang yang tidak sengaja saya temui di jalan yang mengatakan, “jalani hidup seperti halnya air yang mengalir”. Namun buat saya, terkadang air yang mengalir dari hulu ke hilirpun harus terhenti karena bebatuan besar yang menghalangi air sehingga terhambat untuk segera sampai ke dasar sungai. Lalu, masihkah Anda menginginkan hidup Anda seperti air yang mengalir??
Yah, hal yang mendasar yang saya sampaikan bukan itu, namun pemikiran oleh seorang filsuf besar. Tapi, tidak ada salahnya buat kita untuk merenung sejenak mengenai hal tersebut.
Plato, dengan proyek besarnya meyakini bahwa di balik alam materi ini, terdapat sesuatu yang kekal, tidak akan musnah. Materi yang tersusun dari zat zat yang terindrai itu akan musnah bersama musnahnya alam materi ini, namun materi ini tidak memusanahkan sesuatu yang kekal, sesuatu yang lebih substansi dari sekadar materi, Itulah alam ide.
Di alam ide inilah semuanya bersifat kekal, tak terbatas dan alam ide ini bukanlah pengetahuan yang dangkal seperti yang dipahami oleh para kaum empiris. Dunia yang kekal dan abadi ini bersentuhan dengan hal yang sifatnya spiritual dan sesuatu yang abstrak.
Saya teringat dengan sebuah analogi yang diceritakan oleh Jostein Gardeer tentang plato dalam bukunya “Dunia Spohie”. Beberapa paragraf menggambarkan pemikiran plato seperti halnya sebuah ratusan kue yang dibuat oleh seorang koki yang handal. Ratusan kue ini jika dilihat sepintas tak memiliki perbedaan yang menonjol, kue yang satu dengan kue yang lainnya sama, bentuk, warna, ukuran, semuanya sama. Namun, jika diperhatika secara saksama, sebetulnya memiliki sedikit perbedaan. Tapi, apa sebtulnya yang ingin disampaikan oleh Gardeer dalam novelnya itu??
Dari ratusan kue yang persis sama itu (dianggap sama), jelas memiliki cetakan yang mampu menghasilkan beberapa kue dengan tingkat kemiripan yang sangat tinggi, hingga menghasilkan ratusan kue. Pahaman Plato yang dijelaskan oleh Gardeer itu menggambarkan bahwa cetakannya pastilah lebih baik, lebih sempurna dibanding hasil cetaknya, dari ratusan kue yang dihasilkan itu, pastilah tidak sebanding dengan cetakan kuenya. Cetakan kue inilah yang memiliki kualitas kesempurnaan yang lebih tinggi dibanding kue kue itu tadi.
Seperti halnya alam materi dan alam ide. Dibalik keindahan dan kesempurnaan alam materi, alam ide yang diposisikan sama dengan cetakan kue pastilah memiliki tingkat keindahan yang jauh lebih dibanding alam materi.
Benar, Plato meyakini jika terdapat sesuatu yang kekal, abadi. Bagi kaum agamawan, menyebutnya alam akhirat. Di sini tak lagi ditemukan sesuatu yang bersifat empiris, tidak ada sesuatu yang bisa dinilai dari indra.

Akhir Hayat Sang Filsuf

by google
Makassar - Hari ini, sepertinya saya harus tercengang, kaget, bungkam dan terkejut dengan sebuah novel yang dikarang oleh Jostein Gardeer. Dia cukup lihai dalam menghasilkan kalimat demi kalimat yang disusun dari kata kata yang cukup nakal. Namun, hal yang substansial dari buku ini sebenarnya, bukan soal siapa si penulis, tapi apa yang ditulis.
Kadang, berpikir mengajak kita untuk berada di dunia yang gelap, membayangkan sesuatu atau sesosok, atau apapun itu. Berpikir, seperti halnya mencerna kata demi kata atau hasil realitas yang baru saja kita saksikan. Namun, pernahkah kita berpikir dengan apa kita berpikir??? Lalu, apa itu berpikir???
“Akal”, kata ini sepertinya bukan hal yang baru untuk kita dengarkan. Lalu, benarkah kita berpikir dengan akal?? Seperti apa akal itu?? Di mana keberadaannya?? Benarkah di dalam otak??
Berbicara soal akal sebetulnya hanya sebagai pengantar untuk perbincangan kita selanjutnya. Pernah dengar Socrates, Plato dan Aristoteles? Mungkin, kamu salah satu dari ribuan orang yang belum pernah mendengar nama mereka, atau mungkin kamu pernah mendengar atau sekadar membaca dari buku buku nama mereka tertera dalam sebuah cerita novel, filsafat atau dalam buku yang menjelaskan tentang sesuatu yang sangat mendasar. Mungkin juga kamu sama seperti saya, yang sedang jatuh cinta dengan ketiga sosok itu??? Entahlah, itu cukup Anda saja yang tahu.
Awalnya, saya hanya mendengar sepintas nama mereka, mendengar nama mereka disebut sebut dalam perbincangan filsafat. Dan aku tidak suka dengan kata itu. Tapi, lambat laun, mendalami tentang filsafat atau membaca referensi dari buku atau internet, bahkan membaca novel “Dunia Sophie” membuatku begitu mencintai filsafat, mencintai ketiga sosok di atas.
Filsafat, mencintai kebijaksanaan. Konon, ketika Socrates masih hidup ia begitu sangat mencintai kebijaksanan. Hingga pada suatu waktu sesorang menanyakan kepada seorang peramal di kota Yunani. “Peramal, siapa yang sesungguhnya yang paling bijaksana di kota ini?,” tanya seorang warga Yunani. “Ia adalah Socrates,” jawab Sang Peramal.
Mendengar hal ini, Socrates kaget bukan kepalang. Ia bergegas mencari tahu kebenaran dari kabar tersebut, hingga ia rela menyelinap dan bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya dengan pertanyaan yang filosofis. Hingga sampai akhirnya ia berkesimpulan, “Mungkin, benar dikatakan oleh si peramal, Akulah orang yang bijaksana,” Kata Socrates dalam hati.
Benar, Socrates adalah seorang filsuf, seorang mencintai kebijaksanaan. Namun, ia sangat rendah hati, ia menolak dikatakan seorang bijaksana, ia bahkan kadang memposisikan diri sebagai orang yang tolol, bodoh dibanding kebanyakan orang.
Lain halnya dengan orang orang sophist, yang terdiri dari kaum cerdas, bijaksana, namun mereka hanya menjadikan pengetahuannya sebagai komoditas, memperjual belikan pengetahuan, hal ini bukan sesuatu yang salah, benar. Namun, kaum sophist ini hanya ingin berbagi pengetahun jika ditukarkan dengan uang atau sesuatu yang bernilai tinggi. Merekalah orang orang sophist.
Tidak hanya itu, kaum sophist bahkan melakukan doktrinisasi terhadap petinggi petinggi Yunani pada masa itu. Mereka menanamkan ajaran yang sangat empiris, menilai kebenaran hanya dari bisa tidaknya kebenaran itu terindari, itulah kebenaran yang sesungguhnya.
Hal ini jelas bertentangan dengan pengetahuan yang diajarkan oleh Socrates, Socrates yang kisah hidupnya dicatat oleh sang Murid, Plato menjelaskan bahwa ada kebenaran yang tidak hanya bisa diindari, namun, akallah yang mampu menangkapnya. Sedangkan kau sophist menolak adanya pengetahuan akal.
Lambat laun, petinggi Yunani yang mayoritas telah tersisipi oleh pengetahuan empiris dari kaum sophist merasa terganggu denga keberadaan Socrates. Pemerintahan mengira Socrates memperkenalkan dewa dewa baru yang jelas bertentangan dengan yang diyakini oleh para kaum empiris. Akhirnya, mereka memberikan dua pilihan kepada sang filsuf. Mati atau pergi dari kota yunani. Demi mempertahankan kebenaran yang diemban, sang filsufpun akhirnya memilih untuk mengakhiri hidupnya di kotanya tersebut dengan jalan meminum racun cemara.

Wednesday, October 17, 2012

Feminisme, sebuah paham atau propaganda???


by google
Sebuah artikel pada situs internet membuat saya tercengang kaget membacanya. Dalam artikel yang membicarakan soal perempuan itu menerangkan betapa hukum pemerintahan di Indonesia mampu dibeli dengan dolar. Tulisannya tidak begitu panjang, namun cukup bisa untuk menggelitik pembaca.
Pada situs itu menjabarkan bahwa Indonesia di Tahun 2004 sempat dibuat geger dengan kontroversi Draft Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang disusun oleh Departemen Agama RI. Draft yang pada Bulan Oktober dibuat oleh Tim Pengarusutamaan Gender itu konon dibiayai oleh Zionisme Internasional. Namun, sebetulnya bukan soal siapa yang berada dibalik pembuatan draft ini, tapi dampak yang berakibat sangat fatal. Dari beberapa pasal yang tertera, ditemukan pasal yang nayata nyata menolak poligami, bahkan dari rancangan itu membenarkan perempuan menjadi saksi dalam sebuah pernikahan yang nyatanya tidak diperbolehkan dalam agama. Dalam hal mewarispun terdapat kerancuan, perempuan dan laki laki memiliki hak waris yang sama.
Hal di atas hanya sebagian kecil dari dampak besar akibat merebaknya tuntutan kaum feminism yang terus bergejolak di belahan bumi manapun. Feminisme sebetulnya sebuah gerakan yang menuntut kesamaan hak dan kewajiban pria dan wanita, baik untuk wilayah publik maupun domestik. Jika mayoritas pria disibukkan dengan tanggung jawab mencari nafkah dan perempuan hanya berkutat dengan urusan rumah tangga, maka hal inilah yang ditolak mentah mentah oleh penggiat feminisme.
Feminisme adalah ajaran yang lahir saat revolusi industry terjadi di Inggris pada tahun 1792. Saat itu, kondisi perempuan sangat memprihatinkan, mereka terus bekerja layaknya seorang budak yang tidak memperoleh upah. Perempuan terus dituntut untuk melaksanakan kewajiban sebagai pekerja yang tidak boleh menuntut hak. Jika di masa itu dikenal manusia sampah, maka kata itu pantas dilekatkan pada perempuan. Seperti itulah situasi yang terus berlanjut, hingga suatu ketika seorang perempuan menginginkan agar perempuan tidak lagi berada di posisi tertindas, dia adalah Lady Mary.
Namun, lambat laun paradigma tentang feminisme mengalami kemunduran, bahkan jauh dari maksud awal yang ingin melepaskan perempuan dari kungkungan budaya perbudakan. Semakin hari mereka yang mengatasnamakan feminism ini terus melakukan penuntutan terhadap hak yang (katanya) mereka tidak peroleh.
Hal ini bagi sebagian orang adalah sebuah kesia-siaan semata, bagaimana tidak??? Sudah jauh setelah terjadinya revolusi industry, wanita dan pria ditempatkan di posisi yang sama. Wilayah publik yang menjadi bagian dari bidang ekonomi, hukum, pemerintahan dan segala macam aktivitas yang bertujuan untuk kepentingan umum, tidak hanya diisi oleh kaum pria, wanitapun sudah memiliki peran dalam hal ini.  Begitupun juga untuk wilayah domestik, priapun sudah mulai melibatkan diri untuk mengurusi rumah tangga.
Lalu, apalagi yang dituntut oleh kaum feminisme saat ini? Bukankah semuanya telah terpenuhi???