“Dek, apa bisa malam ini ke pondokannya kakak? Ada yang mau saya berikan,” pesan itu terlihat membahana di layar mungil hapeku. Dalam pikir, aku masih bertanya-tanya entah apa yang ingin diberikannya untukku. Akupun teringat dengan seseorang yang pernah menyampaikan padaku bahwa ia akan pergi. Namun, hal itu ternyata belum juga menyadarkanku bahwa kakak yang sudah lama ini membimbingku benar-benar akan meninggalkan kota anging mammiri ini.
Pukul 9 teng aku berjalan ke pondokannya, yang tak jauh dari tempat tinggalku, aku berjalan dengan sangat santai seolah takkan terjadi sesuatu.
Setibaku di kamar yang berukuran 3*4 itu, kuketuk segera pintu kamarnya, berharap ia dengan sigap membukakan pintu untukku.
“kak shyta, apa kabar?” sapaku padanya.
Segera ia menarik tangan, memelukku dan cipika-cipiki deh! Hal ini bukanlah sesuatu yang baru buat aku dan dia karena seperti itulah agamaku mengajarkan agar selalu berjabat tangan saat bertemu guna menggugurkan dosa.
“Atty ke sini dengan siapa? Tanyanya padaku tanpa sempat menjawab sapaan awalku, mungkin lupa.
“sendiri kak,” ungkapku tegas.
Sambil berjalan masuk ke kamarnya, melewati lorong gelap yang kecil, ia mulai bercerita mengapa memanggilku malam-malam ke pondokannya.
“Atty, kak shyta akan ke Jakarta lusa besok.”
Kalimat itu seolah menjadi cambuk yang menyesakkan dadaku seketika, kaget mendengar apa yang baru saja ia sampaikan padaku. Segera kutanya untuk apa ia ke Jakarta dan berapa lama. Tanpa basa basi ia pun dengan gercap berkata.
“Kakak akan lanjutkan studi di sana dan entahlah kapan akan kembali lagi ke Makassar, bisa ia bisa tidak.”
Rasa sesal, takut, mulai menyeruak dalam batinku. Seluruh anggota tubuh ini bergetar mendengar apa yang baru saja di ucapkannya, bagai tersambar petir. Perlahan, air mataku meleleh dan tak kuasa lagi menahan. Tumpahlah sudah tangisanku malam itu, selasa (24/5).
Ia mulai merangkul tanganku, meyakinkanku bahwa suatu saat kami akan dipertemukan lagi, penyesalan dan rasa bersalah pada seorang yang sudah kuanggap kakakku itu semakin besar. Menyesal karena beberapa kali aku ingkar janji saat ia selalu mengajakku bertemu walau hanya sesaat. Menyesal, tak pernah lagi membalas pesan yang menanyakan kabarku, bahkan menyesal saat beberapa kali kubohongi dia untuk semua urusanku.
Ingin sekali kukatakan padanya, “aku mencintaimu, aku sayang padamu, kau kakakku, kumohon tetaplah di sini bersamaku,” kalimat-kalimat itu hanya melayang-layang di kepalaku, terasa berat untuk kuucapkan padanya.
Lama kami saling berdiam, tak bersuara, iapun kembali membuka pembicaraan dengan menasihatiku. “Dek, kakak tahu bagaimana kesibukanmu di sana, namun kakak tetap ingin agar kamu seperti dulu lagi, tapi tidak berarti harus meninggalkan yang di sana.”
Dadaku masih sesak, bibir ini masih sulit mengeluarkan suara. Untuk kesekian kalinya aku lagi-lagi mengumbar janji padanya, namun yang satu ini akan berusaha agar mampu kutunaikan. Anggukan-anggukanku saat itu pun menandakan kalau aku siap kembali, seperti dulu.
“Sebenarnya kakak sangat berharap sama Atty,” kalimat itu lagi, panas rasanya telingaku mendengarnya, bukan karena bosan tapi tanggung jawab itu terasa berat untuk kupikul. Dalam hati aku hanya mampu bertanya, “apa aku masih punya kesempatan?”
Terlambat, batinku hanya mampu berkata itu. Betul, aku memang terlambat. Sudahlah, aku berusaha meyakinkan diri ini bahwa sebentar lagi ia tak kan berada disampingku, tak ada lagi perhatian dari seorang kakak, tak ada lagi pesan dakwah yang selama ini kuhiraukan.
“Atty, walaupun kakak nantinya pergi atty tetap harus istiqomah yah. Ingat, tujuan pertama kita berada di sini adalah kuliah dan kelak kita akan menggunakan toga dengan disaksikan orang tua dan teman-teman,” nasehatnya padaku.
Perlahan, aku mulai mampu menyampaikan sesuatu, “kak, kenapa harus di Jakarta? Knpa tidak di sini saja? Tanyaku padanya.
![]() |
| foto ini diambil 2009 lalu |
“Kakak, ingin mencoba di luar dek, kakak ingin membuktikan bahwa mahasiswa Unhas juga mampu bersaing. Lagi pula, kakak masih punya banyak impian yang harus kakak torehkan. Atty juga harus begitu, targetkan kapan ingin selesai kuliah, kapan ingin membuat gebrakan prestasi,” kalimat yang panjang itu, sungguh menyayat hati.
Iapun kmballi merangkulku, memelukku dengan sangat degap, pelukan yang entah kapan lagi akau mampu dapatkan darinya, semoga pelukan ini bukanlah pelukan terakhir. Dadaku yang tadinya sesak, kini sulit untuk menarik nafas, air mataku kembali tumpah di pelukan, kurasakan mataku muali membengkak dan kudengar pula isak tangis darinya.
“Tuhan, buat aku mampu membayar utang-utangku padanya, cukuplah kemarin bualan janji yang kulontarkan untuknya.”
