imaging

imaging
Andi Sulastri Supardi

Tuesday, March 27, 2012

Memulai rindu


Degupan rindu memulai pagi sepenuh cinta
Ingin mendekap sekali lagi
Namun, usia tak lagi rela
Sebab nyata hari ini itu mimpimu
Mendendangkan kasih bak melati
Melihat seri matamu, derai air mata mulai menumpah
Redup hati bukan tak ingin

Masa itu, kini hanya mimpi lalu
Deretan mimpi mulai menghampiri
Belum juga meninggalkan jejak
Yang ada hanya mendiami nasib bersama peluh
Ingin menutup mata dan mulai beradu lewat angan
Namun, sungguh ini adalah nyata
Dikau menunggu nyatanya

Andai bukan karena kasih
Apa Aku?
Hanya memohonkan diri melaluimu
Aku, sebaris nada yang nyaris tak ada
Kau petarung yang menghampiri layak pahlawan
Hadirkan kasih dalam detikan nyawa
Keindahanmu tebarkan cinta untukku

Keindahan Tuhan


Kau bukan hadir dengan keperkasaan
Tidak dengan kejantanan
Meski mengenalmu lewat ketangguhan
Namun, bukan dirimu
Hiasan mulai memanggil dari kecantikanmu
Kelembutan kian terpancar melalui suara
Kecantikanmu, itulah kau

Dirimu, diri Tuhan
KasihNya hadir, terlintas dari bayangmu
Cinta, terlihat dari jejak jejakmu
Kau, bukti keindahanNya
Memanifestasikan Tuhan lewat dirimu
Melaluimu Dia mencipta
Kau hadir sebagai Tuhan

Tuturmu jadi penawar sedu hati
Kau bertahta dengan mahkota keindahan
Andai ingin memujamu, mereka kan patuh
Lahirmu, resap kesucian batin
Memukau tanpa meminta
Yang tersisa dari dirimu hanyalah cinta
Sebab kau adalah perempuan, keindahan Tuhan








Begini, Menunggu

Senja masih beradu, menggelitik makna lewat hias
Teriakan nan permai mengetuk lewat hati
Menanti pesan bersahut
Hingga fajar kembali lahir dalam khayal
Jika hari ini hadir tanpa tuan
Cukup kita saja pemilik jagad
Mendungu dalam peraduan

Pagi begitu saja mulai memanggil
Berdiam, menunggu pergantian
Bertahan meski waktu kian terulur
Jiwa masih saja meronta ronta nan berbisik
Sepi diisi lewat kata tanpa hati
Rinai hujan enggan jadi mata
Meski angin terus saja memanggil

Bisikan sungai mulai mendayu
Gertakan air menakut-nakuti
Kalbupun terasa beku
Jika diam mampu jadi obat, pesakitan tak ada
Bukan bibir yang jadi wakil
Hati mati melalui suara
Bila langit tak hadir.

Cinta

Kelam oleh lembayung kasih
Nyata semakin bisu
Menutup siang tanpa cinta
Hingga malam hadir hanya bersama gelap
Menunggu takdir dalam mimpi

Tuntunkan kami dengan cinta
Hingga semakin jelas kekeruhan jiwa
Jika tirai masih jadi hijab
Biarkan cinta yang menghapuskan
Jika masih tak ada cinta
Biarkan aku mencinta

Bukan Kita

by google
Kita pernah satu, menari bersama alam
Bersahut-sahutan mengejar angin
Berteriak, menunggu kabar tentang esok
Atau memanjat ranting pohon yang mulai menua
Itulah kita, kau dan aku

Hari ini jadi kemarin yang kau ceritakan
Bisikan tentang kita di masa lalu
Pesan itu mulai terkuras oleh waktu
Samar hingga nyaris tak ada lagi

Alur esok hari semakin panjang
Namun, bukan kita yang hadir di sana
Hingga kumenunggupun tanpa suara
Diam lewat kata dan berbicara dengan kata

Thursday, March 8, 2012

Alam Idea Plato VS Aristotelian

Plato & Aristoteles

Setelah wafatnya Socrates sebagai bapak filsafat, maka aliran ini kemudian dilanjutkan oleh plato, murid dari Socrates. Tidak banyak yang bisa dituliskan oleh Plato mengenai ajaran Socrates pasca wafatnya, hal ini lalu dilanjutkan oleh Aristoteles yang membuat beberapa buku mengenai ajaran sang guru.
Di zaman Aristoteles lah ceceran pemikiran dari Socrates banyak dikumpulkan. Logika pada saat itulah yang dijadikan acuan dari Aristoteles untuk mengajarakn pemikiran sang guru. Pemikiran Socrates, plato dan aristoteles ini sejalan, dimana ketiga filsuf ini meyakini adanya realitas objektif, sebuah realitas yang ada di luar dari diri, dimana realitas tersebut benar adanya dan tidak meletakkan manusia sebagai ukuran kebenarannya, justru pengetahuan manusialah yang bergantung kepada realitas objektif ini.
Plato meyakini, diantara hal hal yang bergerak menuju perubahan terdapat sesuatu yang ada namun tetap. Adapun plato sebagai salah satu murid Socrates memiliki pemahaman bahwa realitas objektif pada dasarnya terpisah dari realitas indra. Artinya, hakikat-hakikat dari apa yang terindrai berada di alam yang berbeda dari indra sendiri, dimana alam tersebut dinamainya sebagai alam idea.
Menurutnya lagi, alam idea inilah yang dijadikan sebagai kebenaran objektif. Misalnya, buah yang berjejeran di pasar, melon, mangga dan apel. Ketiga jenis ini hakikatnya adalah buah, dimana buah inilah yang ada pada idea dan menjadi realitas objektif, sedangkan ketiga jenis buah ini hanya terbatasi oleh indra. Plato dalam ajarannya ingin memperlihatkan jika ketiga jenis buah ini terlepas dan terpisah dari buahnya (hakikat), sehingga ketiganya tidaklah bersifat abadi, sedangkan buah sebagai hakikatnya bersifat kekal. Aliran inilah yang disebut sebagai aliran Idealism Plato.
Berbeda dari plato, Aristoteles justru memperlihatkan jika ketiga buah yang tadinya terdiri dari melon, mangga dan apel ini tidak terlepas dari buahnya. Artinya, ketiga jenis ini tidak dipandang berbeda dan tidak terpisah dari kebuahannya. Ketiganya adalah buah dan inilah yang dipandnag sebaai realitas objektif oleh Plato.  Aristoteles kemudian dikenal dengan Aliran Realisme
Namun, meski demikian halnya, baik Plato maupun Aristoteles meyakini hal tersebut dengan sama-sama berangkat dari pengetahuan indrawi.

Sophis (Bukan) Kaum Cerdas

socrates
Filsafat secara etimologi berasal dari dua kata, yakni phile dan sofie (philosophos) yang berarti cinta kearifan, kebijaksanaan. Pada dasarnya aliran filsafat ini mengajarkan metode berfikir dengan dilandasi kebijksanaa. Siapakah pemikir aliran filsafat? Bagaimana filsafat ini bisa hadir?
Sebelum kita bercerita tentang pemikir filsafat, ada baiknya untuk kita mengetahui latar belakang lahirnya aliran ini. Sejak awal, dikenal adanya kaum sofis, kaum ini terdiri ddari para pemikir-pemikir cerdas, mereka inilah yang disebut sebagai cendekiawan. Sofisme ini sebuah madzhab yang diletakkan kepada para mereka yang digolongkan ke dalam kaum yang cerdas. Namun, seiring perubahan zaman, kata sofis ini mengalami pergeseran makna yang dikarenakan oleh para pemikirnya. Kata sofis tidak lagi diperuntukkan kepada mereka yang cerdas, melainkan licik dan mengajarkan kebodohan. Hal inillah yang dilakukan oleh Protagoras (480-411 SM) dan Giorgias (480-380 SM).
Kedua pemikir ini mengajarkan bahwa ”tidak ada sesuatu yang ada, sesungguhnya yang ada itu hanyalah sebuah ketiadaan”. Misalnya, keberadaan matahari, pada dasarnya matahari ini hanya sebuah konsepsi yang dihadirkan oleh indra yakni penglihatan yang mampu manyaksikan warna kekuningan dari matahari dan perabaan yang merasa sisi panasnya matahari ini, nah ketika kedua indra ini tidak ada maka tidak ada pula matahari.
Lebih jauh, Giorgias pernah menulis dalam sebuah bukunya “Tentang Alam” bahwa sesuatu yang ada itu adalah sebuah ketiadaan, jikalaupun dia ada sulit untuk diperkenalkan, bahkan kalaupun dapat dikenal maka ia sulit untuk disampaikan. Dari pemahaman yang disampaikan oleh Protagoras ini jelas menolak adanya kebenaran objektif, bahkan ia menolak eksistensi Tuhan.
Tidak jauh beda dari Giorgias, Protagoras pada dasarnya tetap meyakini adanya kebenaran objektif, namun keobjektifannya ini diukur dari pengetahuan manusia, artinya manusialah yang menjadi penentu adanya kebenaran objektif.
Dari pemikiran tersebut, bisa disimpulkan jika kebenaran objektif akan lahir jika terlbeih dulu hadir yang namanya manusia sebagai penentu kebenaran objektif. Sama halnya ketika konteks ini berada pada tataran teologi, yakni pengetahuan tentang Tuhan, manusialah yang menjadi penentu eksisnya Tuhan. Dapat dikatakan jika tidak ada manusia maka tidak ada Tuhan.
Berangkat dari pemahaman kaum sofis inilah, Socrates hadir dengan aliran filsafatnya, mengkritik satu persatu ajaran kaum sofis. Untuk menjauhkan pemikiran keras kaum sofis ini, Socrates menyebarkan ajarannya dengan mendatangi setiap perkumpulan anak muda di zaman itu. Menurutnya, pekerjaan yang dilakukannya sama halnya pekerjaan seorang bidan yang mengeluakan janin dari perut sang ibu.
Socrates dengan aliran filsafatnya melawan ajaran sofis dengan pekerjaannya yang menulusuri lorong ke lorong, keluar masuk dari pintu ke pintu demi menyampaikan kebenaran. Namun, sayangnya, tindakan Socrates ini tidak berjalan begitu lama, pasalnya setelah diketahui oleh penguasa yang notebene berasla dari kaum sophis, Socrates dipenjarakan dan diberi hukuman mati dengan cara diracuni.