 |
| socrates |
Filsafat secara etimologi berasal dari dua kata, yakni phile dan sofie (philosophos) yang berarti cinta kearifan, kebijaksanaan. Pada dasarnya aliran filsafat ini mengajarkan metode berfikir dengan dilandasi kebijksanaa. Siapakah pemikir aliran filsafat? Bagaimana filsafat ini bisa hadir?
Sebelum kita bercerita tentang pemikir filsafat, ada baiknya untuk kita mengetahui latar belakang lahirnya aliran ini. Sejak awal, dikenal adanya kaum sofis, kaum ini terdiri ddari para pemikir-pemikir cerdas, mereka inilah yang disebut sebagai cendekiawan. Sofisme ini sebuah madzhab yang diletakkan kepada para mereka yang digolongkan ke dalam kaum yang cerdas. Namun, seiring perubahan zaman, kata sofis ini mengalami pergeseran makna yang dikarenakan oleh para pemikirnya. Kata sofis tidak lagi diperuntukkan kepada mereka yang cerdas, melainkan licik dan mengajarkan kebodohan. Hal inillah yang dilakukan oleh Protagoras (480-411 SM) dan Giorgias (480-380 SM).
Kedua pemikir ini mengajarkan bahwa ”tidak ada sesuatu yang ada, sesungguhnya yang ada itu hanyalah sebuah ketiadaan”. Misalnya, keberadaan matahari, pada dasarnya matahari ini hanya sebuah konsepsi yang dihadirkan oleh indra yakni penglihatan yang mampu manyaksikan warna kekuningan dari matahari dan perabaan yang merasa sisi panasnya matahari ini, nah ketika kedua indra ini tidak ada maka tidak ada pula matahari.
Lebih jauh, Giorgias pernah menulis dalam sebuah bukunya “Tentang Alam” bahwa sesuatu yang ada itu adalah sebuah ketiadaan, jikalaupun dia ada sulit untuk diperkenalkan, bahkan kalaupun dapat dikenal maka ia sulit untuk disampaikan. Dari pemahaman yang disampaikan oleh Protagoras ini jelas menolak adanya kebenaran objektif, bahkan ia menolak eksistensi Tuhan.
Tidak jauh beda dari Giorgias, Protagoras pada dasarnya tetap meyakini adanya kebenaran objektif, namun keobjektifannya ini diukur dari pengetahuan manusia, artinya manusialah yang menjadi penentu adanya kebenaran objektif.
Dari pemikiran tersebut, bisa disimpulkan jika kebenaran objektif akan lahir jika terlbeih dulu hadir yang namanya manusia sebagai penentu kebenaran objektif. Sama halnya ketika konteks ini berada pada tataran teologi, yakni pengetahuan tentang Tuhan, manusialah yang menjadi penentu eksisnya Tuhan. Dapat dikatakan jika tidak ada manusia maka tidak ada Tuhan.
Berangkat dari pemahaman kaum sofis inilah, Socrates hadir dengan aliran filsafatnya, mengkritik satu persatu ajaran kaum sofis. Untuk menjauhkan pemikiran keras kaum sofis ini, Socrates menyebarkan ajarannya dengan mendatangi setiap perkumpulan anak muda di zaman itu. Menurutnya, pekerjaan yang dilakukannya sama halnya pekerjaan seorang bidan yang mengeluakan janin dari perut sang ibu.
Socrates dengan aliran filsafatnya melawan ajaran sofis dengan pekerjaannya yang menulusuri lorong ke lorong, keluar masuk dari pintu ke pintu demi menyampaikan kebenaran. Namun, sayangnya, tindakan Socrates ini tidak berjalan begitu lama, pasalnya setelah diketahui oleh penguasa yang notebene berasla dari kaum sophis, Socrates dipenjarakan dan diberi hukuman mati dengan cara diracuni.