imaging

imaging
Andi Sulastri Supardi

Sunday, October 28, 2012

Akhir Hayat Sang Filsuf

by google
Makassar - Hari ini, sepertinya saya harus tercengang, kaget, bungkam dan terkejut dengan sebuah novel yang dikarang oleh Jostein Gardeer. Dia cukup lihai dalam menghasilkan kalimat demi kalimat yang disusun dari kata kata yang cukup nakal. Namun, hal yang substansial dari buku ini sebenarnya, bukan soal siapa si penulis, tapi apa yang ditulis.
Kadang, berpikir mengajak kita untuk berada di dunia yang gelap, membayangkan sesuatu atau sesosok, atau apapun itu. Berpikir, seperti halnya mencerna kata demi kata atau hasil realitas yang baru saja kita saksikan. Namun, pernahkah kita berpikir dengan apa kita berpikir??? Lalu, apa itu berpikir???
“Akal”, kata ini sepertinya bukan hal yang baru untuk kita dengarkan. Lalu, benarkah kita berpikir dengan akal?? Seperti apa akal itu?? Di mana keberadaannya?? Benarkah di dalam otak??
Berbicara soal akal sebetulnya hanya sebagai pengantar untuk perbincangan kita selanjutnya. Pernah dengar Socrates, Plato dan Aristoteles? Mungkin, kamu salah satu dari ribuan orang yang belum pernah mendengar nama mereka, atau mungkin kamu pernah mendengar atau sekadar membaca dari buku buku nama mereka tertera dalam sebuah cerita novel, filsafat atau dalam buku yang menjelaskan tentang sesuatu yang sangat mendasar. Mungkin juga kamu sama seperti saya, yang sedang jatuh cinta dengan ketiga sosok itu??? Entahlah, itu cukup Anda saja yang tahu.
Awalnya, saya hanya mendengar sepintas nama mereka, mendengar nama mereka disebut sebut dalam perbincangan filsafat. Dan aku tidak suka dengan kata itu. Tapi, lambat laun, mendalami tentang filsafat atau membaca referensi dari buku atau internet, bahkan membaca novel “Dunia Sophie” membuatku begitu mencintai filsafat, mencintai ketiga sosok di atas.
Filsafat, mencintai kebijaksanaan. Konon, ketika Socrates masih hidup ia begitu sangat mencintai kebijaksanan. Hingga pada suatu waktu sesorang menanyakan kepada seorang peramal di kota Yunani. “Peramal, siapa yang sesungguhnya yang paling bijaksana di kota ini?,” tanya seorang warga Yunani. “Ia adalah Socrates,” jawab Sang Peramal.
Mendengar hal ini, Socrates kaget bukan kepalang. Ia bergegas mencari tahu kebenaran dari kabar tersebut, hingga ia rela menyelinap dan bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya dengan pertanyaan yang filosofis. Hingga sampai akhirnya ia berkesimpulan, “Mungkin, benar dikatakan oleh si peramal, Akulah orang yang bijaksana,” Kata Socrates dalam hati.
Benar, Socrates adalah seorang filsuf, seorang mencintai kebijaksanaan. Namun, ia sangat rendah hati, ia menolak dikatakan seorang bijaksana, ia bahkan kadang memposisikan diri sebagai orang yang tolol, bodoh dibanding kebanyakan orang.
Lain halnya dengan orang orang sophist, yang terdiri dari kaum cerdas, bijaksana, namun mereka hanya menjadikan pengetahuannya sebagai komoditas, memperjual belikan pengetahuan, hal ini bukan sesuatu yang salah, benar. Namun, kaum sophist ini hanya ingin berbagi pengetahun jika ditukarkan dengan uang atau sesuatu yang bernilai tinggi. Merekalah orang orang sophist.
Tidak hanya itu, kaum sophist bahkan melakukan doktrinisasi terhadap petinggi petinggi Yunani pada masa itu. Mereka menanamkan ajaran yang sangat empiris, menilai kebenaran hanya dari bisa tidaknya kebenaran itu terindari, itulah kebenaran yang sesungguhnya.
Hal ini jelas bertentangan dengan pengetahuan yang diajarkan oleh Socrates, Socrates yang kisah hidupnya dicatat oleh sang Murid, Plato menjelaskan bahwa ada kebenaran yang tidak hanya bisa diindari, namun, akallah yang mampu menangkapnya. Sedangkan kau sophist menolak adanya pengetahuan akal.
Lambat laun, petinggi Yunani yang mayoritas telah tersisipi oleh pengetahuan empiris dari kaum sophist merasa terganggu denga keberadaan Socrates. Pemerintahan mengira Socrates memperkenalkan dewa dewa baru yang jelas bertentangan dengan yang diyakini oleh para kaum empiris. Akhirnya, mereka memberikan dua pilihan kepada sang filsuf. Mati atau pergi dari kota yunani. Demi mempertahankan kebenaran yang diemban, sang filsufpun akhirnya memilih untuk mengakhiri hidupnya di kotanya tersebut dengan jalan meminum racun cemara.

No comments:

Post a Comment