![]() |
| Plato & Aristoteles |
Setelah wafatnya Socrates sebagai bapak filsafat, maka aliran ini kemudian dilanjutkan oleh plato, murid dari Socrates. Tidak banyak yang bisa dituliskan oleh Plato mengenai ajaran Socrates pasca wafatnya, hal ini lalu dilanjutkan oleh Aristoteles yang membuat beberapa buku mengenai ajaran sang guru.
Di zaman Aristoteles lah ceceran pemikiran dari Socrates banyak dikumpulkan. Logika pada saat itulah yang dijadikan acuan dari Aristoteles untuk mengajarakn pemikiran sang guru. Pemikiran Socrates, plato dan aristoteles ini sejalan, dimana ketiga filsuf ini meyakini adanya realitas objektif, sebuah realitas yang ada di luar dari diri, dimana realitas tersebut benar adanya dan tidak meletakkan manusia sebagai ukuran kebenarannya, justru pengetahuan manusialah yang bergantung kepada realitas objektif ini.
Plato meyakini, diantara hal hal yang bergerak menuju perubahan terdapat sesuatu yang ada namun tetap. Adapun plato sebagai salah satu murid Socrates memiliki pemahaman bahwa realitas objektif pada dasarnya terpisah dari realitas indra. Artinya, hakikat-hakikat dari apa yang terindrai berada di alam yang berbeda dari indra sendiri, dimana alam tersebut dinamainya sebagai alam idea.
Menurutnya lagi, alam idea inilah yang dijadikan sebagai kebenaran objektif. Misalnya, buah yang berjejeran di pasar, melon, mangga dan apel. Ketiga jenis ini hakikatnya adalah buah, dimana buah inilah yang ada pada idea dan menjadi realitas objektif, sedangkan ketiga jenis buah ini hanya terbatasi oleh indra. Plato dalam ajarannya ingin memperlihatkan jika ketiga jenis buah ini terlepas dan terpisah dari buahnya (hakikat), sehingga ketiganya tidaklah bersifat abadi, sedangkan buah sebagai hakikatnya bersifat kekal. Aliran inilah yang disebut sebagai aliran Idealism Plato.
Berbeda dari plato, Aristoteles justru memperlihatkan jika ketiga buah yang tadinya terdiri dari melon, mangga dan apel ini tidak terlepas dari buahnya. Artinya, ketiga jenis ini tidak dipandang berbeda dan tidak terpisah dari kebuahannya. Ketiganya adalah buah dan inilah yang dipandnag sebaai realitas objektif oleh Plato. Aristoteles kemudian dikenal dengan Aliran Realisme
Namun, meski demikian halnya, baik Plato maupun Aristoteles meyakini hal tersebut dengan sama-sama berangkat dari pengetahuan indrawi.

No comments:
Post a Comment