Masih…
Berdiam bersama ayunan irama kepedihan
Hingga kutahu hanya detak jam dinding yang setia mengawal
Lantunan kaki seolah saja menari di atas awan
Menyentuh bukit pesakitan dan menyerupai malaikat Tuhan
Bagai burung yang tersekap dalam kepingan tangis
Berjalan serentak menuju disentri kematian
Isakan nafas bagai sopran yang hilang tertelan dalam pijaran air mata
Bersama angin kusampaikan pesanku yang kutulis dalam diam
No comments:
Post a Comment