Ketika awan berarak bergerak, bergantian dengan datangnya malam
Kelampun jadi ukiran yang selalu menemani
Hari-hari hanya menjadi kemarau panjang yang tak berkesudahan
Hingga kala itu aku tak ada lagi
Hari ini dan esok lagi lagi hanya akan menjadi kenangan yang sungguh gusar
Tak ada noktah terang hingga kini
Kutemukan diri dengan rupa yang berbeda
Terlihat indah namun tetap saja rapuh
Lemah oleh harap yang belum jua tiba
Seraya menunggu, namun masih nihil
Kosong melompong, terhijabi oleh dosa yang saling bersahut sahutan
Gelisah menanti giliran, hingga semua menjadi akibat penghijab
Suatu saat kumelihat berbeda, nyaris hilang bersama sinaran pagi
Hingga lembayungpun tertutupi oleh pegam hitam
Hijab ini perlahan menggerogoti organ ruhani
Bahkan tetesan iman tak lagi terlihat
Meninggalkan, tanpa jejak
Hingga yang tersisa hanya tangis, pedih, luka
Kini, hanya sendiri, bahkan itu bukan aku

No comments:
Post a Comment