Jilbab, apa yang kuketahui tentang itu? Aku mungkin sedikit paham bahwa jilbab adalah penutup aurat, only that. Dari penampilanku, orang mungkin akan mengira bahwa aku seorang perempuan yang tahu banyak tentang islam, seorang yang berasal dari keluarga yang begitu fanatik dengan Islam, atau bisa jadi mereka mengira bahwa aku seorang anak pesantren. Tapi, sungguh itu semua salah, sejak kecil orang tuaku memasukkanku ke tempat mengaji, di sanalah aku belajar banyak soal Agama yang dibawah oleh Rasulullah SAW. Mengajariku menutup aurat, di sana pulalah aku bergau dengan teman-teman yang kebanyakan berasal dari keluarga pesantren, perlahan akupun mulai terkontaminasi dengan pakaian yang mereka kenakan tiap harinya.
Akupun memutuskan untuk mengenakan jilbab yang sedikit agak panjang (menutupi dada), awalnya mungkin hanya anjuran dari seorang teman, namun jilbab ini Alhamdulillah mampu aku pertahankan sampai aku menginjakkan kaki di Universitas. Sejak saat itupun aku berkomitmen untuk menjaga jilbab sebagai hijab dan juga Identitas diriku.
Suatu hari aku mengikuti sebuah kajian keagamaan, awalnya pemateri tidak membahas tentang hijab, namun seseorang tiba-tiba menanyakan tentang penutup aurat bagi perempuan. Pemateripun menjawabnya dengan memberikan analogi bahasa yang lebih mudah, “perempuan itu kedudukannya sama dengan mutiara, begitu sangat berharga, sehingga harus selalu dijaga, harus dilindungi, olehnya itu mutiara tidak disimpan di sembarang tempat, ia memiliki wadah khusus untuk menjaganya dan menutupinya, begitu pula dengan perempuan karena ia berharga, tak sembarang orang mampu menyentuhnya dan karena keberhargaannya itu juga ia tertutupi.”
Seseorang juga pernah mengatkan seperti ini padaku, “siapa yang tidak menghargai perempuan maka ia belum mapu menghargai Fatimah Az Zahra da siapa yang belum juga mampu menghargai putri Rasul ini, jangan harap telah menghargai Muhammad SAW, nah salah satu bentuk penghargaan terhadap perempuan adalah mengenakan penutup aurat.”
Namun, tak jarang perempuan yang belum mengenakan jilbab memiliki alasan yang sama, “jilbabkan dullulah hati, sebelum menutup aurat.” Awalnya kupikir apa yang sering mereka katakan ini juga tidak salah, tapi bagi mereka yang memperkenalkan diri sebagai muslimah seharusnya ingat salah satu ayat dalam Al Quran, Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal karena itu mereka tidak di ganggu.Dan Allah adalah maha pengampun dan penyayang. (Al Ahzab.59).
Jadi, pada dasarnya jilbab adalah suatu yang wajib hukumnya, jangankan kita yang posisinya masih perempuan biasa, bahkan istri nabipun diminta untuk mengenakan jilbab. Tapi, buatku ini bukan persoalan wajib tidaknya, namun ini adalah bagaimana kedudukan, kamu, saya, dia dan beberapa permpuan lainnya bahwa kita sangat berharga, jangan biarkan keelokan tubuhmu terlihat, kita mungkin seperti jajanan kue yang ada pasar, tapi kue yang ditutup rapi, sehingga tak membiarkan orang lain seenaknya menyentuh, hanya si pemiliklah. Jilbab, menjadi identitas kita kawan.

