imaging

imaging
Andi Sulastri Supardi

Saturday, September 17, 2011

Menghijab dengan Jilbab

Jilbab, apa yang kuketahui tentang itu? Aku mungkin sedikit paham bahwa jilbab adalah penutup aurat, only that. Dari penampilanku, orang mungkin akan mengira bahwa aku seorang perempuan yang tahu banyak tentang islam, seorang yang berasal dari keluarga yang begitu fanatik dengan Islam, atau bisa jadi mereka mengira bahwa aku seorang anak pesantren. Tapi, sungguh itu semua salah, sejak kecil orang tuaku memasukkanku ke tempat mengaji, di sanalah aku belajar banyak soal Agama yang dibawah oleh Rasulullah SAW. Mengajariku menutup aurat, di sana pulalah aku bergau dengan teman-teman yang kebanyakan berasal dari keluarga pesantren, perlahan akupun mulai terkontaminasi dengan pakaian yang mereka kenakan tiap harinya.
Akupun memutuskan untuk mengenakan jilbab yang sedikit agak panjang (menutupi dada), awalnya mungkin hanya anjuran dari seorang teman, namun jilbab ini Alhamdulillah mampu aku pertahankan sampai aku menginjakkan kaki di Universitas. Sejak saat itupun aku berkomitmen untuk menjaga jilbab sebagai hijab dan juga Identitas diriku.
Suatu hari aku mengikuti sebuah kajian keagamaan, awalnya pemateri tidak membahas tentang hijab, namun seseorang tiba-tiba menanyakan tentang penutup aurat bagi perempuan. Pemateripun menjawabnya dengan memberikan analogi bahasa yang lebih mudah, “perempuan itu kedudukannya sama dengan mutiara, begitu sangat berharga, sehingga harus selalu dijaga, harus dilindungi, olehnya itu mutiara tidak disimpan di sembarang tempat, ia memiliki wadah khusus untuk menjaganya dan menutupinya, begitu pula dengan perempuan karena ia berharga, tak sembarang orang mampu menyentuhnya dan karena keberhargaannya itu juga ia tertutupi.”
Seseorang juga pernah mengatkan seperti ini padaku, “siapa yang tidak menghargai perempuan maka ia belum mapu menghargai Fatimah Az Zahra da siapa yang belum juga mampu menghargai putri Rasul ini, jangan harap telah menghargai Muhammad SAW, nah salah satu bentuk penghargaan terhadap perempuan adalah mengenakan penutup aurat.”
Namun, tak jarang perempuan yang belum mengenakan jilbab memiliki alasan yang sama, “jilbabkan dullulah hati, sebelum menutup aurat.” Awalnya kupikir apa yang sering mereka katakan ini juga tidak salah, tapi bagi mereka yang memperkenalkan diri sebagai muslimah seharusnya ingat salah satu ayat dalam Al Quran,  Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal karena itu mereka tidak di ganggu.Dan Allah adalah maha pengampun dan penyayang. (Al Ahzab.59).
Jadi, pada dasarnya jilbab adalah suatu yang wajib hukumnya, jangankan kita yang posisinya masih perempuan biasa, bahkan istri nabipun diminta untuk mengenakan jilbab. Tapi, buatku ini bukan persoalan wajib tidaknya, namun ini adalah bagaimana kedudukan, kamu, saya, dia dan beberapa permpuan lainnya bahwa kita sangat berharga, jangan biarkan keelokan tubuhmu terlihat, kita mungkin seperti jajanan kue yang ada pasar, tapi kue yang ditutup rapi, sehingga tak membiarkan orang lain seenaknya menyentuh, hanya si pemiliklah. Jilbab, menjadi identitas kita kawan.

Sunday, September 11, 2011

Aku Rindu, Apa Kau Juga???

Hey yang di sana, seberapa lama lagi aku menunggu? Apa betul kau akan kembali menemuiku? Datang kepadaku dan kita akan berbicara tentang cinta. Benarkan??? Jangan pergi terlalu jauh yah kekasihku, aku takut jika kau lupa jalan untuk pulang.
Kau pernah mengatakan bahwa akan menungguku sejauh apapun aku pergi, bahkan anda aku tak kembali, kau masih ingin tetap menungguku, tapi itu katamu dulu. Sejenak, aku diam ternyata aku takut membuatmu lama menunggu, biarkan kini giliranku. Tak mengapa jika harus menunggu lama, asal kau kembali.
Kini, di tepi jendela, kuselalu menatap jauh ke awan, berharap hujan segera menitikkan dentingan air, menyampaikan salamku lewat angin. Mengharapmu hadir di ujung jalan sana, atau sedang duduk menimati aroma hujan dan wewangian tanah  yang menjadi  basah.

Duhai yang kucinta, kurindukan hadirmu di sini.

Kupikir mampu melupakannya, ternyata aku salah. Kebersamaan kami dulu meninggalkan bekas di sudut termanis hatiku. Episode yang pernah kami lewatkan terasa begitu pahit untukku melupannya, bahkan aku sendiri tak peduli apa dia merasakan hal yang sama denganku, namun tetap saja aku berharap suatu hari takdir mampu mempertemukan kami lagi.
Ya Rabb, sungguh aku masih mengharapkannya, di dalam relung hatiku ini masih ada ruang untuknya. Terkadang kupertanyakan, mengapa kebersamaan dengannya seolah berlalu begitu cepat, namun kupikir ini adalah jalan terindah yang Kau siapkan untukku dan dirinya, tak mengapa.
Duhai yang tercinta yang pernah hadir di sini bersamaku, terima kasih telah membuat hari-hariku lebih indah walau sangat singkat. Biarlah semua berjalan seperti sedia kala, seperti saat kau dan aku tak pernah saling mengenal, tak pernah bertemu dalam sebuah skenario Tuhan.
Mungkin, kau telah bersama yang lain atau sedang merindukan seseorang yang juga sama sedang merindukanmu di sana. Biarlah aku tetap menjaga kerinduan ini, kelak akupun mampu melanjutkan episode kisah ini meski itu bukan bersamamu.